Activity

  • Brock Hebert posted an update 5 months ago

    Pemanfaatan electronic know your customer atau e-KYC dievaluasi bisa membikin industri teknologi finansial menghemat tarif hingga Rp61 triliun. Pembantu Deputi Keuangan Inklusif dan Keuangan Syariah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Erdiriyo menjelaskan bahwa optimalisasi teknologi bisa menekan muatan operasional lembaga jasa keuangan. Sejumlah pelaksanaan malahan dapat dilaksanakan dengan pesat dengan biaya yang lebih terjangkau.

    Perkembangan digital di era sekarang ini tentu bisa membantu masyarakat dalam melaksanakan kesibukan serta memenuhi keperluan, terlebih yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat administratif, mengajukan pinjaman online, berbelanja online, atau menjalankan transaksi lewat platform elektronik lainnya sebab dirasa lebih sederhana dan efisien. Dengan cara elektronik, konsumen bisa seketika mengisi data pribadi tanpa patut bertatap muka dengan penyedia jasa/platform.

    Dalam hal mengakses data, baru-baru ini Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil mengumumkan tentang pemberian akses data kependudukan penduduk ke 2,108 lembaga, termasuk di dalamnya perusahaan pinjaman (peer-to-peer lending) dan lembaga jasa keuangan lainnya, di mana data-data hal yang demikian berupa nomor induk kependudukan, alamat, profesi, jumlah anggota keluarga dan data berhubungan lainnya yang akan diterapkan untuk tujuan verifikasi.

    Pembukaan data terhadap calon konsumen ini bertujuan untuk memenuhi prinsip Know Your Customer (KYC) atau prinsip mengetahui nasabah, yang juga searah dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan mengenai pengerjaan prinsip KYC secara elektronik, yang secara umum diketahui dengan e-KYC.

    Dalam hal mengakses data konsumen tentunya erat hubungannya dengan perlindungan data pribadi. Tetapi, Indonesia sendiri masih belum memiliki satu payung tata tertib yang secara khusus mengendalikan perihal perlindungan data pribadi. Ketentuan terkait hal tersebut masih tersebar di pelbagai aturan, sementara Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan Data Pribadi masih dalam tahap diplomasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Seiring dengan itu, masyarakat awam saat ini memiliki risiko yang lebih besar terhadap kebocoran data pribadi sebab dibukanya jalan masuk tersebut.

    Enkripa Teknologi Indonesia dari keperluan untuk lebih memahami secara mendalam mengenai pengaplikasian e-KYC di Indonesia bagi pelaku usaha atau lembaga jasa keuangan secara pas bagus dari segi aturan dan bisnis, Hukumonline akan menyelenggarakan Webinar Hukumonline 2020. Seminar online kali ini akan mengangkat tema “Perkembangan dan Pemakaian e-KYC di Indonesia bagi Perusahaan” yang akan dijalankan pada Selasa, 18 Agustus 2020, melewati platform Zoom Webinar.

    Dalam webinar ini akan hadir 3 narasumber yang kompeten dalam bidangnya yang akan memaparkan lebih terang berkaitan pengaplikasian serta perkembangan metode e-KYC dari segi peraturan dan bisnis. Ketiga narasumber hal yang demikian adalah Semuel A. Pangerapan (Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI), Erwandi Hendarta (Senior Partner, HHP Law Firm), dan Mahardikha Sardjana (Partner, HHP Law Firm). Webinar ini juga akan dimoderatori oleh Vania Natalie (Legal Analyst, Hukumonline.com).

    Hukumonline membuka registrasi pembicaraan ini bagi yang tertarik, terpenting bagi perusahaan dan firma aturan. Jangan sampai melewatkan kesempatan ini, tempat terbatas, first come first served!Jika Anda beratensi, silakan klik di sini.

    Sebagaimana yang dikenal bahwa syarat KYC di sektor jasa keuangan mulanya diaplikasikan untuk bank dengan diterbitkannya Hukum Bank Indonesia No. 3/10/PBI/2001 Tahun 2001 tentang Pemakaian Prinsip Mengenal Nasabah (Know-Your-Customer Principle). Di mana tata tertib tersebut mengharuskan bank biasa untuk bertatap muka dengan calon nasabah secara seketika untuk memverifikasi data.

    Tata hal yang demikian kemudian mengalami perkembangan, sedangkan dalam perkembangannya bank tetap belum diperkenankan untuk memakai media elektronik dalam mengakses data, sampai OJK menerbitkan POJK12/2017 di mana terdapat kelonggaran ialah verifikasi bisa dikerjakan dengan menerapkan media/sarana elektronik yang secara spesifik tercantum dalam Pasal 17, yang tentunya memiliki beberapa syarat tertentu.

    Apa Itu Cara KYC (Know Your Customer)?

    Mungkin sebagian dari Anda masih merasa asing dengan istilah KYC (Know Your Customer). Terutamanya bagi Anda yang baru pertama kali menjelang dunia aset kripto.

    Istilah Know Your Customer sebenarnya sudah benar-benar lumrah diaplikasikan. Biasanya, istilah ini dipakai dalam layanan penyedia jasa keuangan untuk melaksanakan verifikasi identitas pengguna. Zipmex menjadi salah satu platform investasi dan jual beli aset komputerisasi yang mengaplikasikan KYC dalam aktivitasnya. Oleh karena itu, kali ini Zipmex akan mengulas apa itu KYC, fungsinya, dan seperti apa pengerjaan Know Your Customer.

    Apa Itu KYC (Know Your Customer)?

    KYC ialah singkatan dari Know Your Customer atau Know Your Clients. Kesibukan KYC yaitu upaya yang dilaksanakan lembaga keuangan dan investasi untuk memutuskan serta memverifikasi identitas yang dimiliki oleh seseorang atau organisasi. Dalam hal ini, Know Your Customer umumnya mengacu pada pengguna layanan.

    Cara verifikasi Know Your Customer umumnya melibatkan beberapa tahap, salah satu di antaranya yakni mengunggah dokumen identitas. Sistem tersebut dilakukan untuk mempertimbangkan akun yang dibuat oleh pengguna bukanlah akun palsu. Sehingga layanan keuangan dapat meminimalisasi serta mencegah tindak kecurangan atau transaksi yang mencurigakan.

    proses KYC

    Siapa Saja yang Menerapkan Pelaksanaan KYC?

    Progres KYC umumnya diaplikasikan oleh layanan penyedia jasa keuangan seperti perbankan. Prinsip KYC perbankan tertuang pada Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana sudah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 seputar Perbankan (UU Perbankan).

    Di Indonesia sendiri, KYC yaitu proses yang lazim digunakan oleh jasa perbankan. KYC dalam dunia perbankan dipakai untuk mengetahui isu mengenai nasabah bank tertentu. Seperti yang diinfokan dari PPATK, KYC perbankan dikontrol secara khusus dalam Tata Bank Indonesia Nomor 3-10-PBI-2001 seputar Pengaplikasian Prinsip Mengetahui Nasabah.

    Pada Pasal 1 ayat 2 hukum ini, prinsip KYC dalam perbankan didefinisikan sebagai prinsip yang mesti diterapkan. KYC bermanfaat untuk mengenal identitas nasabah, memantau kegiatan transaksi nasabah, termasuk pelaporan transaksi yang mencurigakan. Tetapi saat ini, metode Know Your Customer diaplikasikan secara tak terbatas. Perusahaan fintech, telekomunikasi, dan berbagai ragam perusahaan penyedia jasa lainnya juga ikut serta mengaplikasikan cara serupa.

    Apa Tujuan Cara KYC?

    Setelah mengenal apa itu KYC dan siapa saja yang mengaplikasikan proses Know Your Customer, saatnya kita mengenal tujuan pelaksanaan Know Your Customer.

    Kerja KYC dijalankan untuk menghindari tindak korupsi, penyuapan, atau pencucian uang. Tidak hal yang demikian dikerjakan guna memastikan keamanan Anda, pelanggan lain, dan platform penyedia layanan itu sendiri. Tanpa proses Know Your Customer, Anda juga tak akan merasa hening mempercayakan uang Anda terhadap bank atau platform lainnya. Jikalau hingga itu saja, Anda mungkin akan ragu dan merasa cemas dikala menjalankan transaksi lainnya.

    Seandainya bank membiarkan siapa saja untuk membuka rekening secara acak, akan timbul kemungkinan pihak tidak bertanggung jawab membuka rekening atas nama Anda tentu semakin besar. Rekening ‘palsu’ itu bisa saja dibuat untuk tujuan ilegal yang dapat merugikan Anda.

    Kemungkinan terburuknya, data Anda bisa disalahgunakan untuk transaksi yang bersifat melanggar hukum. Sistem itu, proses KYC juga akan menolong lembaga keuangan untuk mendapat isu mengenai preferensi pengguna. Sehingga, perusahaan bisa memaksimalkan layanan mereka cocok dengan keperluan nasabah.